Showing posts with label Fiction. Show all posts
Showing posts with label Fiction. Show all posts

Wednesday, September 26, 2007

Overtime.1


Can you keep a secret ?

Pukul 19.00, GOR Basket Bulungan. suara riuh gemuruh penonton terdengar begitu bising. Suara tepuk tangan dan teriakan dari supporter kedua tim pun terdengar jelas dari luar gedung. Hari ini adalah pertandingan Final Bola Basket IBA antara dua tim yang tersisa, tim gue, Jakarta Scorpion’s melawan tim dari Bandung The Sentinels.This is my dream, untuk bermain di pertandingan sepenting ini. Bukan karena hadiahnya, bukan karena pialanya, tapi lebih karena kepuasan batin. Just imagine, lo berada ditengah-tengah lapangan dengan dikelilingi ratusan mata yang melihat ke arah lo. Yang siap memberi semangat ataupun mencemooh, itu semua tergantung lo. Nothing can’t beat that feeling.

Kenalin, gue Dimas, gue adalah salah satu pemain dari Jakarta Scorpion’s dan kebetulan gue juga merupakan kapten tim. Gue suka basket dari gue SD. Semenjak bokap ngasih hadiah bola basket kulit dan memasang ring basket di halaman depan rumah gue sebagai hadiah ulang tahun ke-6 gue. Sejak itu juga gue langsung jatuh cinta sama olahraga yang satu ini. Bahkan sampe sekarang bola basket hadiah dari bokap itu masih ada dikamar gue. Dari basket juga gue ketemu sama sahabat gue dan cewek gue sekarang. I love basketball, basketball is my life.
Ruang Locker pemain. Gue duduk sendiri termenung sambil dengerin lagu di ipod hitam kesayangan gue. Pemain-pemain lainnya sudah diluar untuk melakukan pemanasan, sedangkan gue masih disini karena gue baru aja bicara sama pelatih gue tentang sesuatu yang harusnya udah gue kasih tau dari awal ke dia. Tiba-tiba terdengar bunyi dari handphone gue yang menandakan ada satu message baru, ternyata dari Chika.

From : Chika
My googley bear, jangan lupa dipake wristband dari aku ya ☺, and have a great game. Semangat! This is your time to shine.


Satu message itu membuat gue tersenyum. Satu message itu membuat semangat gue untuk menang bertambah besar. Kemarin, Chika tiba-tiba dateng kerumah gue untuk ngasih gue sesuatu. Wristband yang dia buat khusus buat gue. Wristband berwarna biru tua dengan bordiran berwarna putih huruf “C” yang menandakan inisial Chika disatu sisi, dan angka 11 disisi lain yang merupakan nomor favorit dan nomor punggung gue di tim.

“Dim, kenapa lo ? gak biasa-biasanya masih di locker sendiri begini, sakit ?” Tiba-tiba satu suara itu memecah lamunan gue. Ternyata Eja, dia adalah teman setim gue sekaligus sahabat gue.”
“Eh, ngga..ngga apa-apa, barusan abis dikasih wejangan sama coach.”
“Mmmh..Dim, I know about your secret.” Kata Eja hati-hati sambil memandang gue khawatir.
“Hah? darimana ? who told you?” Kata gue kaget. Gak seorangpun harusnya tau rahasia gue itu.
“Barusan coach bilang ke gue soal itu, are you sure you want to do this man?”
“…….” Gue terdiam mendengar pertanyaan dari Eja.
“It’s my dream Ja, you can’t take it away from me. Not today.”
“Tapi…”
“Ja, please, kita sahabatan dah lama, dari sekian banyak orang, gue berharap lo yang paling ngerti gue.”
“Iya, gue tau tapi…”
“Cukup Ja, Im OK, I’ll be fine.” Kata gue meyakinkan.
“Tapi please jangan sampe ada yang tau lagi soal ini…”
“..even itu Ibu atau Chika..” Kata gue menegaskan.


“Hah ? Jadi mereka ?? ” Eja kaget mendengar perkataan gue.
“Belum”
“Tapi lo akan ?”
“Iya, setelah pertandingan ini.”
“…….” Eja terdiam, raut mukanya berubah menjadi khawatir.
“Ya udah, ayo pemanasan, it’s the final Ja! We’ve got to win this!” Kata gue sambil beranjak meninggalkan Eja yang sedang duduk terdiam.

Begitu gue sampai dipintu, gue melihat stadion sudah penuh dengan supporter kedua tim. Pandangan gue tertuju ke arah penonton, ke kursi VIP, disana Ibu gue dan Chika duduk, untuk memberi semangat gue. Keduanya adalah wanita yang sangat gue sayang. Keduanya selalu menyemangati gue disetiap pertandingan gue. Dan sekarang saatnya gue untuk membuat mereka bangga dengan memenangkan final ini bersama tim gue.
Setelah melakukan pemanasan, coach mengumpulkan kita semua membentuk lingkaran untuk melakukan briefing sekali lagi tentang taktik yang akan kita gunakan. Setelah selesai giliran gue sebagai kapten untuk mengangkat moral tim.

“This is it guys, it’s the Championship game.”
“Gue tau seharusnya sekarang saatnya gue ngasih kata-kata yang bisa ngebuat kita semua semangat, hari ini ngga..gue speechles.”
“It’s our time to shine, Tunjukin kalo kita memang pantas berada disini.”
“YEAAAAH!!!!”
“Let’s go out there and have the best game of your life, all of us!”
“And most important thing..have fun, enjoy this moment!”
“YEAAAH !!”
“Gentlemen..it’s been an honor to share the field of battle with you.”
“Scorpion’s on three”
“1..2..3”
“Scorpion’s..GO!!”

Pertandingan akan dimulai, lampu-lampu stadion dimatikan. Lalu terdengar suara announcer.

“Selamat datang di Pertandingan Final Indonesian Basketball Association, yang akan memperebutkan piala bergilir dan hadiah uang sebesar lima ratus juta rupiah.”
“Hari ini tim dari Jakarta, yaitu Scorpion’s akan melawan tim dari Bandung yaitu The Sentinel.”
“Dan sekarang saatnya saya memperkenalkan para pemain, get ready..ini dia pemain dari Bandung Sentinels !!!!”

Announcer memperkenalkan para pemain satu persatu, setelah memperkenalkan pemain dari Bandung Sentinel, sekarang announcer memperkenalkan tim gue. Setelah keempat starter tim gue diperkenalkan, sekarang giliran gue

“From Jakarta Scorpion’s, on Guard, number eleven..Dimas Aryo Seno!!!”

Suara tepukan dan teriakan dari penonton membuat gue merinding. Merinding bukan karena takut bermain jelek dan kalah, tetapi merinding karena ini moment yang selama ini gue impikan, bermain di Final adalah impian gue. Dan gue akan berusaha sekuat tenaga untuk memenangkan pertandingan ini!


Clutch Shot.

Babak keempat. Detik-detik terakhir, kedudukan 77-78 untuk keunggulan Bandung Sentinels. Coach mengisyaratkan tanda time out kepada wasit.

“15 detik lagi, Jakarta Scorpion’s tertinggal satu angka, dan bila kedudukan tetap maka Bandung Sentinels lah yang akan menjadi juara IBA.” Suara Announcer terdengar disetiap sudut stadion.

“Kita pake taktik spread offense.” Kata Coach.
“Dimas, kamu cari celah kosong, kalo ngga bisa kita ganti ke Eja.”
“OK!!” Satu team serentak menjawab tanda mengerti.
“Scorpion’s on three”
“1,2,3..”
“Scorpions..GO!!”

Priiit!! Bunyi peluit tanda waktu timeout habis dibunyikan wasit. Para pemain kembali kelapangan mengambil posisinya masing-masing.

“Lima belas detik lagi dan Scorpion’s membutuhkan satu bola untuk memenangkan pertandingan.”
“Dimas mendapatkan bola, dan Bandung Sentinels menjaganya dengan double team.”
“Dia harus mengopernya ke rekan setimnya, dia mengoper ke Eja.”
“Eja mengembalikan bola lagi kepada Dimas, waktu tinggal tersisa tujuh detik!”
“Dimas tidak bisa bergerak bebas karena dijaga oleh dua orang.”
“Dia harus melakukan sesuatu..Tiga detik lagi..dua..”
“Dimas berputar, melompat melakukan fade away jumpshoot !!”
“…..MASUUUUUK!!!” Teriak Announcer menggelegar.
“ Luar Biasa !! Tembakan terakhir dari Dimas Aryo Seno membuat Jakarta Scorpion’s menjadi juara IBA untuk yang pertama kalinya!”

Terikan dari penonton dan seluruh tim Jakarta Scorpion’s bergemuruh di Stadion Basket Bulungan. Gue melihat teman-teman gue berteriak senang dan melompat-lompat menghampiri coach. Dan gue melihat Ibu dan Chika saling berpelukan. lagu “We Are The Champion.”-nya Queen mulai dimainkan. Sedangkan gue masih dalam posisi terjatuh setelah melakukan fade away jumpshoot. Gue berusaha sekuat tenaga gue untuk berdiri, tapi badan gue terasa sangat berat, pandangan gue perlahan kabur, ditengah riuh nya stadion bulungan, gue melihat Eja mendekat ke gue sambil berteriak, bukan teriakan kegembiraan, tetapi lebih ke teriakan khawatir, like something bad is about to happen.

“Dim, talk to me dim, dim sadar dim.” Eja mencoba menggoyang-goyangkan badan gue tetapi gue gak merasa apa-apa.
“Ja..kita menang ja…kita….menang.” Kata gue setengah sadar.
“Iya Dim. Kita menang, berkat lo..Bangun Dim!! Bangun !!” Eja panik, dia mencoba tetap membuat gue sadar.

Eja lalu memanggil Ibu, Chika dan Coach untuk mendekat ke gue. Gue melihat wajah Eja, Ibu, Chika dan Coach berubah dari senang menjadi khawatir dan sedih.

“Naaak, kamu kenapa naaak ??!” Teriak ibu panik, begitu mendekat dan langsung mengusap kepala gue.
“……" Chika ngga bisa berkata-kata, hanya air mata yang mengucur deras dari wajahnya.
“Heey…jangan nangis…aku menang Chik, Scorpion’s juara..” Kata gue mencoba menanangkan Chika.
Gue mencoba sekuat tenaga untuk menggerakan tangan gue untuk menghapus air mata Chika dengan tenaga gue yang tersisa.

“Dim, bangun dim, kita harus terima piala juara, kita harus ngangkat piala itu bareng dim, lo udah janji sama gue !! dan lo harus terima piala MVP dim!!” Suara Eja bergetar, dia tidak kuat menahan emosi akhirnya air matanya pun keluar.
“Lo…wakilin gue ya ja…”
“Lo..tolong jagain Ibu sama Chika…”
“Dim, udah deh jangan ngomong macem-macem!!” Eja tambah panik.
“Bu..maafin aku…”
“Ssst..udah kamu istirahat, biar cepet sembuh.” Ibu mencoba menenangkan.
“Chik…wristband kamu ajaib…gara-gara ini tembakan terakhirku masuk.” Kata gue melihat wristband pemberian Chika sambil tersenyum.

Gue lalu melepas wristband itu dari tangan gue dan mengembalikannya ke Chika.

“Kamu simpen ya beib.…sebagai simbol aku gak akan ninggalin kamu, dan biar kamu inget terus ke aku”
“…..I..iya beib.” Kata Chika sambil menangis sesengukan.
“Terima kasih buat semuanya…terima kasi…”

Perlahan lahan pandangan gue pun memudar dan perlahan menggelap, bunyi riuh disekitar stadion pun lama kelamaan seperti menjauh. Dan samar-samar gue mendengar suara orang-orang yang mengelilingi gue berteriak dan menangis, tetapi lama-kelamaan mulai hilang.




Read More......

Sunday, September 23, 2007

Nasi Goreng Ikan Asin pt.3

Bobby Sixkiller

Kamis pagi. Gue dan Irfan sudah dihadapkan sama kejadian yang gak enak. Kita berdua dipanggil ke ruangan Pak Rahmat, yang mana dia adalah atasan kita. Sangat mudah buat cari Pak Rahmat di gedung ini, selain dia chief editor, dia juga punya fashion sense yang eksotik, or in other word nyentrik. Dengan rambut selalu klimis, memelihara kumis dan jenggot, dan perutnya yang tambun. Dan hari ini dia melakukan suatu breakthrough datang kekantor dengan menggunakan kaca mata hitam lengkap dengan Jaket dan celana kulit. Hard to imagine ? Ok..inget Bobby sixkiller di serial tv Renegade dulu? Nah, picture that but with big round belly. Come to think of it, mungkin lebih mirip Sinterklas muda daripada Bobby Sixkiller. Dan pagi ini dia menyuruh kita berdua ke ruangannya buat mendengarkan hasil meeting dengan client yang seharusnya ketemu sabtu kemarin.

“Pagi pak!” Gue duluan masuk ke ruangannya dan sempat terdiam mendapatkan Pak Rahmat sedang bergaya seperti koboi didepan kaca. Pak Rahmat nggak menggubris kata-kata gue.
“Ekspresinya kurang pak..”
“Eh, kamu ndra..Gimana saya pagi ini ? sudah cukup ganteng kan ?” Kata dia Pede,

Damn! gue kira gue yang paling narsis, ternyata masih ada yang lebih daripada gue. kata gue dalam hati. Demi menjaga dan menyelamatkan nasib karir gue yang baru seumur jagung disini, gue pun terpaksa berbohong.

“Mmmmmh..Ganteng pak, cuma saya rasa kurang topi koboi sama kalung-kalungannnya pak, pasti bapak keliatan lebih berwibawa.”
“Wah betul kamu ndra, gak salah memang saya kamu terima di majalah ini, selera berpakaian kamu ternyata sebelas-dua belas sama saya. Gak beda jauh lah, Ok nanti makan siang saya akan cari topi dan kalung itu” Kata dia semangat.

“Im was being sarcastic, you freak!” kata gue dalam hati, dan gue gak berani ngebayangin apa yang nantinya reaksi Irfan begitu dia masuk keruangan ini.

“Duduk Ndra, mana Irfan ? tadi kan saya suruh kalian menghadap saya berdua.”
“Eh ada pak, lagi ke toilet mungkin.”
“Jadi gimana meeting dengan client sabtu kemarin ? sudah beres semua ?”
“Itu dia pak..”

Sebelum gue melanjutkan kata-kata gue, Irfan tiba-tiba mengetuk dan masuk ruangan. Gue berdoa semoga dia gak melakukan tindakan-tindakan ajaib yang bisa menyebabkan kita dipecat setelah melihat dandanan Pak Rahmat.

“Selamat Pa…..gi Pak!” kata Irfan dengan menirukan anak-anak SD mengucapkan salam. Irfan langsung terkesima melihat dandanan Pak Rahmat dan menahan ketawa, sedangkan gue langsung melakukan kontak mata dengan Irfan memberi tanda untuk ngga berbuat sesuatu yang aneh-aneh.

“Wah, pak ganteng sekali bapak pagi ini, cocok pak!” Kata Irfan yang sebenarnya meledek tapi dianggap sebagi pujian oleh Pak Rahmat.

“Wah makasih fan..” Pak Rahmat makin pede.
“Jadi ? gimana hasil meeting dengan client sabtu kemarin ? kapan kita bisa memulai photoshoot untuk edisi ulang tahun majalah kita ini ?” Tanya Pak Rahmat.

“As I was saying pak..kemarin itu kita gak jadi meeting karena client tiba-tiba membatalkan karena model yang tadinya mereka akan pakai untuk photoshoot ini tiba-tiba berhalangan.”
“Hah ? lalu kita harus mulai dari awal lagi ?” Pak Rahmat mulai menunjukkan tanda-tanda kepanikan,
“Ngga pak, tenang aja mereka juga sedang mencari talent baru untuk konsep mereka, saya dan Irfan pun berusaha mencari juga kok pak, ya kan fan ?”
“Betul pak!”
“Lalu kapan kalian bisa dapat talent baru nya ? besok ? lusa ?”
“Pak, kita kan nyari talent, bukan nyari jasa badut atau tukang sulap yang no.telponnya ada di setiap tiang listrik dan besok langsung datang kerumah.”
“Betul pak!” sahut Irfan.
“Mmmh..ya sudah, kalian berdua saya kasih waktu sampai akhir minggu ini, kalau sampai akhir minggu ini gak dapet….kalian saya hokum potong gaji!”
“Waduh pak…jangan gitu dong pak, kan bukan salah kita! Ya kan fan ?” Kata gue sedikit keberatan.
“Bet..”
“Fan, Cukup! Sekali lagi kamu bilang betul, saya turunkan pangkat kamu jadi OB!”
“Betu..eh Baik Pak!” kata Irfan.
“Ya sudah, keluar kalian dari ruangan saya..kembali bekerja”
“Baik pak!”
“Eh..Ndra!” kata Pak Rahmat menahan.
“Ya Pak ?”
“Tolong carikan info toko yang menjual pernak-pernik koboi didekat sini ya.”
“B..baik pak!”

Can’t Get You Out of My Head

Begitu keluar dari ruangan Pak Rahmat, gue langsung mencoba menghubungi semua kenalan model yang pernah kerjasama sama majalah ini, tapi hasilnya nihil. Either model itu udah ada jadwal pemotretan atau sedang liburan ke luar negeri. Irfan pun mulai menelpon kenalan-kenalannya yang kiranya bisa diajak bekerja sama, tetapi nasibnya juga sama.
Gue pun membuka friendster untuk mencari temen-temen gue yang paling ngga cocok dengan konsep photoshoot kita. Ditengah keputusasaan, gue tiba-tiba mengklik account Irfan dan mencari satu nama yang udah tiga hari ini menyita pikiran gue. Citra, makhluk manis yang gue kenal ditempat dvd weekend kemaren. Setelah mengubek-ubek lama akhirnya ketemu.

“Hmm..lucu juga.” kata gue dalam hati.
“Citra Putri Fidhayanti..what a gorgeous name.”
“Female,22, single, hmmm..interesting.”
“Hoobies & Interest…Crazy for photography, fashion stylist & modeling..Love it!”
“Payah Ndra, orang-orang pada gak bisa semua, ada yang bisa tapi minta bayaran tinggi banget..cyapede” Kata Irfan.

“Eh itu kan…Citra yang kmaren Ndra. Ciyeee..Andra.”

Gue langsung spontan menutup page friendsternya Citra daripada manusia satu ini mengolok-olok gue terlalu lama.

“Paan sih ?! Gue kan cuma cari talent buat photoshoot kita nyet!” Sanggah gue.
“Jenius lo Ndra! Jenius…” Kata Irfan sumringah.
“Apaan ?? emang gue ngapain ?”
“Kita minta si Citra aja jadi talent, buat photoshoot kita. Coba gue hubungin sekarang ya, kmaren gue dapet no.telponnya pas kita ketemu ditempat dvd.”
“Sip!” kata gue sedikit antusias.

-Beeeep –

Sunday morning rain is falling
Steal some covers share some skin
Clouds are shrouding us in moments unforgettable
You twist to fit the mold that I am in

But things just get so crazy living life gets hard to do
And I would gladly hit the road get up and go if I knew
That someday it would lead me back to you
That someday it would lead me back to you

“Enak juga nada sambungnya dia..nyanyi ah!” Kata Irfan.

“Hallo?” Citra menjawab.
“That may be aaaaaaaaaaaall I neeeeeeeed…”Irfan terus bernyanyi gak sadar kalo Citra sudah mengangkat teleponya.
“Hallo…Fan??”
“In darkness she is aaaaaall I seeeeee… Come and rest your bones with me” Irfan terus bernyanyi dan sekarang bergaya seperti kontestan Indonesian Idol yang sedang melakukan audisi.
“…..” Citra diam menahan tawa mendengarkan Irfan yang tidak sadar masih bernyanyi.
“Driving slow on Sunday morning.. And I never want to le..”
“Yak Cukup! Kamu lulus audisi, sampai ketemu di Jakarta!” seru Citra.
“Hah ? Heh ? “ Irfan kaget karena daritadi ternyata Citra sudah mengangkat dan mendengarkan dia bernyanyi.
“Eh udah diangkat..jadi malu.”
“Hahahaha..suara kamu bagus fan, kamu bukan nelpon aku buat karaokean kan ?”
”Hahahah..bisa aja lo, bukan..bukan, gue nelpon lo mau nawarin kerjaan, sibuk ngga?”
“O ya kerjaan apa ? Kebetulan aku lagi libur kuliah nih, bosen dirumah terus.”
”Wah kebetulan, jadi gini cit, kita lagi perlu talent buat photoshoot kita, soalnya talent yang sebelumnya tiba-tiba batalin janji.”
“Wah aku seneng bangeet, aku emang pengen banget terlibat sama kerjaan-kerjaan kaya gini.”
“Jadi ? lo bersedia Bantu kita nih ? nanti kita satu tim sama Andra yang waktu itu ketemu di tempat dvd, kamu inget kan ?”
“O yaa ? inget dong..Jadi I will be glad to help you guys! Jadi kapan kita mulai ?” Katanya semangat.
“Mmmh..Gimana kalo hari Senin kamu dateng kekantor kita buat bicarain semuanya? Setuju ?”
“Okie Dokie!”
“Okay..sampe ketemu Senin. Daagh Citra.”
“Dagh Irfan.”

- Klik –

“Beres Ndra, hari Senin nanti dia mau kesini buat bicarain photoshootnya.
“Siip! Gak jadi dihukum berarti kita.” Bales gue lega.

Sebenernya gue bukan lega karena gak dihukum sama Sinterklas muda, tapi lebih karena gue akan ketemu lagi sama seseorang yang kepikiran sama gue akhir-akhir ini.

Read More......

Friday, September 21, 2007

Nasi Goreng Ikan Asin part.2

Silent Mode : ON

hanya air mata
dan sesal kurasa
di depanku kau bercinta
kau ingkari janjimu
tuk setia bersamaku
kini kau bunuh hatiku

ku tak ingin dengar ratapanmu
dan ku tak kan lagi menyentuhmu
pergi dan jangan kembali
ku ingin sendiri
( Ari – Dicintai untuk Disakiti )

Dua puluh lima bulan kejadian itu berlalu, dan selama itu juga gue belum bisa ngilangin bayang-bayang Adinda dari kepala gue, it seems impossible. Gue masih gak bisa ngelupain gimana dia ninggalin gue dengan alasan klise “gue terlalu baik buat dia”. Ada ya orang yang gak suka kalo pasangannya terlalu baik dan terlalu sayang ke dia ? Aneh, gue selalu berpikir itu dalam hati. Kalo udah begini Dicintai untuk Disakiti-nya Ari udah jadi soundtrack gue buat ngelewatin masa-masa sakit hati.

Anywaaaaay, sekarang gue bekerja sebagai seorang fotografer di salah satu majalah fashion yang cukup ternama di Jakarta. Tadinya sebelum ini, kerjaan gue adalah kerjaan yang kantoran yang mengharuskan gue duduk manis dibelakang meja. And because that kind of work it’s not my cup of coffee, jadinya gue memutuskan untuk berhenti, dan satu alasan lagi kenapa gue pindah adalah masih satu perusahaan sama Adinda walaupun beda divisi. Jadi itu juga yang menguatkan gue untuk mencari pekerjaan lain, dan akhirnya terdampar disini sebagai fotografer.

Kamar gue, Sabtu sore. Rencananya gue hari ini mau leyeh-leyeh seharian dikamar, internetan. Mmmh let see..ngapain ya..isi bulbo!! This is my guilty pleasure, temen-temen gue sendiri sampe bingung kalo dikantor gak ada kerjaan gue pasti anteng didepan komputer buat isi bulletin board di friendster.

Hmmm..cari yang pertanyaannya seru..ahaa dapet ! isi isi!

1. Tb2 dicium nenek2 gag di kenal ?
kalo cakep gpp..auhuehuahaua..cium balik
lah..anak muda harus menghormati yg tua

2. Malem2, dikejar2 hansip, di sangka
maling ?
enak aje ganteng2 maling..bapak ngapain
ngejar2 saya ? *ooo mungkin karena
ganteng..maaf pak saya normal

About Your Love Life

3. Have you ever been in love?
Yup

4. Have you ever been hurt?
hurt is my middle name

5. Are you afraid of commitment?
Gak percaya yang namanya komitmen, it’s bull ^)*@*^

6. Why did your last relationship
fail?
because of me..because she said that im too kind..

Ah gak asik bener ni pertanyaannya..


Today

7. your plan for today ?
mmmh..janjian sama irfan ketemu client di Kemang Food Fest jam 5 sore.



Tiba-tiba setelah gue jawab pertanyaan no.7 itu gue reflek liat jam tangan gue, disitu tertera dengan manisnya menunjukkan sudah pukul 16.55.

“Oo..Shh..Gue telaaaaaat !!!!” Gue tereak sekenceng-kencengnya.

Gue langsung menuju ke kamar mandi dengan tujuan paling ngga harus terlihat seperti orang udah mandi, abis itu karena jarak Kemang Food Fest dengan kost-an gue gak begitu jauh, gue memutuskan untuk lari. Dengan pertimbangan hari sabtu sore jalanan sekitar kemang pasti macet. Mudah-mudahan Irfan udah ada ditempat, jadi bisa nahan clientnya sebentar biar gak pergi.

Sambil gue lari, gue mau kenalin sobat gue yang namanya Irfan. Irfan boleh dibilang sebagai partner in crime gue ditempat kerja. Kalo kata temen-temen gue, Irfan sama gue itu udah kaya pinang dibelah dua, cuma bedanya belahan gue lebih banyak dikit karena lebih ganteng gue daripada dia. ( sorry for the constant narcissism :P ). Dikantor pun kalo udah ada kita berdua pasti gak mungkin gak ribut, maka dari itu bos kita selalu mengatur jadwal agar sebisa mungkin kita gak berada didalam ruangan yang sama terlalu lama.

Akhirnya gue sampe didepan Kemang Food Fest yang sudah mulai ramai didatangi oleh para abg-abg. Sambil mengatur nafas gue yang kembang kempis, gue ngeliat jam tangan gue untuk mencatat rekor waktu gue lari dari kost-an ke Kemang Food Fest.

“Jam 5.05..yes! telat dikit gapapalah, mereka pasti maklum.” Kata gue dalam hati, sambil mengelap keringet gue yang deras bercucuran.

Napas gue kembang kempis, baju gue pun udah basah kuyup sama keringet gue dikarenakan ide brilian gue untuk lari dari kost-an daripada naek ojek. Jadi intinya kalo client liat gue saat ini, mungkin mereka mengira kalo gue abis dikejar anjing atau abis lomba marathon.

Pas lagi enak-enaknya mengumpulkan tenaga gue yang tercecer di sepanjang jalan Kemang Raya, Irfan ternyata keluar dari Kemang Food Fest, mukanya kaget ngeliat gue yang sedang asik mengambil nafas mirip ibu-ibu sedang latihan Yoga.

“Yak..Inhaaaaleee….Exhaaaaaleeeee…sekali lagi ibu-ibu, Inhaaale…Exhaaale” Kata manusia satu ini yang memang seneng banget ngeliat temennya yang lagi susah.

“Anduk dirumah lo abis ? kalo abis mandi itu mbok’ ya andukan dulu..jangan langsung pake baju gitu, basah gitu baju lo”
“Rese lo, gue itu udah bela-belain lari dari kost-an gue kesini biar gak telat meeting, kan kita janji jam 5 sama client.”
“Heh ? meeting ? meeting apaan ? kan gue udah sms lo tadi pagi kalo meetingnya diundur, gak jadi hari ini, emang lu kagak terima sms gue?”
“Hah ?? Serius lo ? Kapan lu sms gue ? perasaan daritadi pagi handphone gue gak ada bunyi-bunyi acan.”

Gue langsung mengambil handphone gue dari saku celana gue dengan, dan ternyata handphone gue dalam keadaan silent.

“Semprul ! masih gue silent bekas meeting kemaren dikantor!”


Serendipity

Setelah puas memaki diri sendiri, akhirnya gue sama Irfan menuju ke salah satu café disitu. Gue memesan segelas Frappucino Caramel dan Irfan memesan Ice Capucinno. Napas gue masih megap-megap karena lari-larian dan masih gak percaya kalo gue segitu bodohnya masih menyetting handphone gue ke silent mode .

“Aah..pegel semua kaki gue gara gara lari-larian, mana kaos basah semua gini!”
“Ya itung-itung olahraga, kan lo dah jarang tu olahraga sampe keringetan gitu.”

Spontan gue lempar saputangan gue yang sudah basah karena keringet gue ke mukanya Irfan.

“Sssompret! Eh kunyuk, kalo gue tiba-tiba mati gara-gara nyium saputangan belel lo ini gimana ?”
“Ya dikubur laaah..masa didiemin disini” Jawab gue santai.

Irfan akhirnya speechless denger kata-kata gue. Sambil menunggu badan gue kering dari keringet, gue mengeluarkan laptop gue untuk browsing..

“Fan, Kenapa tiba-tiba client ngebatalin janji pas hari H sih ? gak professional amat!”
“Bukan gitu Ndra, mereka bilang model yang mau mereka pake itu tiba-tiba juga ngebatalin gitu aja, jadi konsep yang mereka punya harus dirombak lagi dan cari model lagi.”
“Ooo..gitu, Mmmh..gimana kalo kita bantuin mereka Fan ?”
“Cari model ?”
“Bukan, cari ibu-ibu pkk yang bisa masak buat bikinin tu client makan malem. Ya iyaaaaaalaaah cari modeeel !!”
“Deeeuh sensitip bener ini si akang, trus caranya ? cari temen-temen cewek kita ?”
“Mmmh..bisa..ataaaau…sebentar..”

Gue langsung reflek membuka situs friendster untuk mencari solusi dari permasalahan ini. Irfan dengan muka was-was menunggu jalan keluar dari gue.

“Ndra..”
“Mmmh ?!”
“Ndra..ngapain sih lo ? apa solusinya ??”
“Friendster!” jawab gue lantang.
“Yaaah..masih aja isi bulletin board pas saat-saat begini, ini masalah belon kelar, lu malah maen begituaan.”
“Eh cumi ! bawel lu kaya ibu-ibu arisan..lo blom tau kan kalo di friendster itu lo bisa nyari cw man ! Cantik-cantik deh pokoknya, bisa lu search yang sesuai sama keinginan lo lagi, kan sekalian cari buat client, siapa tau bisa jadi cem-ceman gue, kurang apa coba ?!”
“Kurang kerjaan elunya.. Misalnya nih ya, lu search tu, trus lu ketemu deh sama kriteria lu, abis itu message-messagean, ngajak ketemuan, tau-tau laki yang dateng gimana ?”
“Bo, emang yey kira akika lelaki apaan, masa iya mau maen pedang-pedangan, tapi kalo ganteng ya bolelebo, yu'” Bales gue dengan nada bicara mirip dengan bencong-bencong Taman Lawang.

Irfan yang sedang meminum Ice Cappucino nya tidak dapat menahan tertawanya sehingga sedikit tersedak. Dan sedikit Cappucino tersebut keluar dari hidungnya. ( for your own safety, jangan coba-coba dibayangin ya! ).
“Eh ndra, cabut yok, cari dvd.. abis ni film dirumah” Ajak Irfan setelah dia malu disekitar nya melihat kearahnya dengan setengah menertawakan dirinya.


Karena badan gue juga udah kering, gue mengiyakan ajakan Irfan, kebetulan gue juga mau cari film buat tontonan di kost-an kalo lagi gak ada kerjaan. Akhirnya gue dan Irfan pergi ketempat dvd yang ngga jauh dari situ. Gue memilih film-film yang gak begitu berat, karena jujur gue males mikir kalo lagi nonton film. Tiba-tiba lagi asik gue milih-milih film, gue melihat seorang cewek tinggi, putih, memakai jaket dan celana jeans, berkacamata dan rambut disanggul dengan tusukan model sumpit ,gak tau kenapa pandangan gue gak bisa lepas dari dia.

“Mbak-mbak..ada filmnya John Cusack yang Serendipity gak ?” Tanya cewek itu.
“Mmmh..ada mbak, tu didepan mas-mas yang pake jaket biru” mbak-mbak dvdnya lalu menunjuk ke arah gue.
“Eh ? Hah ? Oooh..iya ini dia.” Dengan muka cengo tapi ganteng ini, gue spontan menyodorkan film yang dimaksud ke cewek itu.
“Ehm..this is one of my favourite films ?” Gue mencoba membuka pembicaraan.
“Really ? me too..ini aja udah kesekian kalinya beli abis yang udah-udah rusak karena keseringan ditonton.” katanya ramah.
“My favourite part is when John Cusack telling story about Casiopea.”
“Me too!! It’s so romantic!!” kata dia semangat.

Entah kenapa there’s something different waktu gue ngeliat dan bicara sama dia, dan entah keberanian dari mana, gue menyodorkan tangan mengajak berkenalan.

“Andra”
“Aku Citra” katanya sambil tersenyum.

Tangan gue sama dia sama-sama gak mau lepas, tiba-tiba entah darimana Irfan menghampiri gue.

“Ndra, ni film yang lo cari waktu itu yang banyak adegan ranja..” Irfan menghentikan kata-katanya. Dia lalu memperhatikan gue dan Citra yang lagi salaman.

“Citra ya ?” Tanya Irfan.
“Irfan ??”
“Heeh..masih inget ternyata ya lo sama gue”
“Ya iyalah..masa aku gak inget sama seniorku paling baek dikampus dulu” kata dia riang.
“Udah pada kenal kan ? Citra ini Andra temen gue dikantor, Andra ini Citra junior gue di ekskul fotografi pas kuliah dulu.”

“Nice too meet you.”
“ My pleasure.” balas gue

Irfan dan Citra bertukar kabar, sedangkan gue melanjutkan memilih film. Setelah beberapa lama Citra pamit, karena dia ada janji dengan teman-temannya. Gue ngeliat dia pergi ninggalin gue sama Irfan kembali ke teman-temannya. Gue ngerasa ada sesuatu yang aneh di diri gue.

“Oy..Kenapa lu ? diem aja.” Kata Irfan bingung.
“Ngga..ngga apa-apa.”

Gue gak tau gue kebawa suasana atau gimana, but I feel sumthing funny in my belly. Perasaan yang selama ini selalu gue tolak, perasaan yang dulu ada karena seseorang bernama Adinda Larasati.









Read More......

Wednesday, September 19, 2007

1-Nasi Goreng Ikan Asin


Tahun 2002. Gue baru aja bangun setelah telpon-telponan sama pacar gue sampe subuh. Nama gue Andra Adithya, temen-temen gue biasa manggil Andra atau Adhit, tergantung situasi, kondisi, toleransi, pandangan dan jangkauan ( jangan disingkat ya! ). Mind you, this day it’s our 2nd anniversary as a couple. she’s the love of my life, my little angel, dia bisa buat gue nyaman, dia bisa buat gue ketawa, pokoknya she’s every man’s dream, dan gue sangat beruntung punya pacar kaya dia. Her name is Adinda Larasati, beautiful name, huh ?

Gue hari ini mau buat surprise ke dia. Gue udah siapin ini dari jauh-jauh hari, gue mau ngajak dia makan malem. Sounds clichĂ© ya ? ntar dulu, gue ngajak makan malemnya gak di fancy restaurant yang mengharuskan gue reservasi tempat seminggu sebelumnya, gue akan ngajak dia makan malem di kostan gue, dan gue akan masak buat dia, her favourite meal, well our favourite meal sih, Nasi goreng ikan asin! Kenapa nasi goreng ikan asin ? because it’s our first meal as a couple, I know it’s not the greatest food in the world but, it’s just for the sentimental reasons. Dan hari ini gue akan belanja pagi-pagi buat bahan-bahannya dan sekalian cari surprise gift buat dia, this is going to be the greatest day ever!!

Gue sengaja gak bilang-bilang Dinda soal surprise ini, kita emang dah sepakat kalo tiap ngerayain anniversary cukup dengan ucapan selamat aja, tapi karena ini menginjak dua taun, gue mo buat dia terkesan, gue mau buat dia gak nyesel kalo diau dah milih gue jadi cowoknya, selain karena alasan gue ganteng tentunya ( maap kalo terkesan narsis, itulah saya, apa adanya dan selalu jujur..:P ) Ok, I’ve got my list, gue udah siap untuk belanja bahan-bahan memasak Nasi Goreng Ikan Asin ala Andra, dengan semangat gue menyetop abang-abang bajaj yang lagi lewat didepan kost-an.

“Bang !!! Bajaj !!!” Gue memanggil abang bajaj dengan semangat 45.
“ Mau kemana om ?”
“Tuh..”Supermarket SAGALA AYA, berapa ?”
“Sepuluh rebu om!” tukas abang bajaj.
“Ah mahal bener, limarebu!”
“Jangan dong om, gak dapet segitu, kan harus muter dulu jalannya.”

Karena gue lagi seneng hari ini, dan kasian juga sama abang bajajnya gue setuju dan langsung naik ke bajaj si abang.

“Ya udah, sepuluh ribu! Tapi gak pake geter ya!”
“Hah ?” abang bajaj dengan pasrah mengantar gue ke supermarket.

Sesampainya didepan supermarket gue langsung disambut sama mbak-mbak penyambut.

“Selamat pagi..selamat datang di supermarket kami, supermarket ini menyediakan ap..”
“Mbak saya udah langganan disini, jadi saya tau supermarket tempat mbak kerja ini ada apa aja dan tempatnya dimana aja, terimakasih banyak lho mbak”
“Eh…iya, sama-sama mas..” Mbak-mbak yang sedang membanggakan tempat dia bekerja pun bengong karena dipotong kata sambutannya sama gue.

Selagi gue asik-asik memilih-milih ikan asin untuk ornamen nasi goreng, gue melihat seorang wanita yang perawakannya dari belakang sangat familiar, berkulit putih, rambut dikuncir, memakai kaos ketat dan celana pendek, ternyata Adinda. Dengan sigap gue mulai mengendap-endap, berusaha biar gak terlihat oleh dia, soalnya gue bilang gue mau pergi sama temen-temen gue. Tapi karena otak gue yang terlalu jenius ini ( maap narsis lagi ) gue penasaran ada apa gerangan Adindaku berada ditempat seperti ini pagi-pagi begini, gue sengaja ngikutin dia dari belakang, ceritanya mau ngagetin dia dari belakang, dari lorong satu ke lorong yg laen gue ikutin, sampai pada akhirnya dia terlihat sedang menghampiri seseorang cowok.
My spider sense tingling! Gue penasaran siapa cowo yang lagi bareng Adinda, gue tetap mengikuti dari belakang dengan bermodalkan satu kotak ikan asin buat tutupin muka ngikutin dinda, gak disangka gak dinyana, gue melihat dengan mata kepala gue sendiri dinda mesra banget sama tu cowok. pegangan tangan, rangkul-rangkulan.

Damn! is she cheating on me ?
tell me it’s just a dream !!
tell me this isn’t true !!

Gue memberanikan diri untuk mendekat lagi, kebetulan mereka menuju kasir tempat pembayaran.

Dengan sigap gue keluarkan handphone berkamera gue, gue foto-foto mereka dari belakang, mungkin gak keliatan jelas, tapi gue rasa dia paham kalo gue nunjukin dia foto ini. Setelah dapat beberapa foto, gue pun mengurungkan niat gue untuk membeli ikan asin, gue keluar lewat jalur cepat, kembali kekostan dengan sejuta pertanyaan, is she cheating on me ?, after all this years ?

Gue liat lagi foto-foto yang tadi gue ambil, yup, it’s her allright..gue telpon dia juga gak diangkat, pasti lagi berduaan sama cowo itu! Gue kalut, akhirnya gue kirim mms foto dengan teks yg isinya “ngeborong yah tadi ? ☺” gak seberapa lama akhirnya hape gue berbunyi tanda sms masuk.

From : Dinda
aku mau ketemu sama kamu sekarang, penting, tolong dateng!


A Betrayal

Entah kenapa feeling gue tiba-tiba berubah jadi gak enak, gue janjian sama Dinda ketemu di food court mall gak jauh dari kost-an gue, entah kenapa dia milih tempat serame itu, apa biar gue gak membabi buta kaya pasukan Spartan yang ngebantai pasukan Persia abis denger penjelasan dari dia ?

Ah bodo!
Gue gak salah, kenapa gue harus takut? semangat dalam diri gue berkobar-kobar untuk mendengar penjelasan dari dia.

Sampai di foodcourt gue mendapatkan Adinda yang sedang duduk sendirian dengan wajah agak panik, sesekali melihat mengusap matanya.

“Hey, ada apa din ? kangen yah ?” kata gue menyindir dia.
“Mmmmh dith…aku mau…ngomong sama kamu “ kata dia agak terbata-bata
“Soal ?”
“MMS yang kamu kirim tadi pagi..”
“Oooh..OK” jawab gue dengan pasrah.
“Mmmh..dith , dinda tau kamu sayang banget sama dinda…”
“Terus ?? “
“Segitu sayangnya sampe kamu selalu ada buat dinda kapan aja, selalu nurutin apa yang dinda mau,”
“O..kay” feeling gue tambah gak enak.
“Itu yang buat aku ngerasa aku gak pantes buat kamu, you’re too nice..”
“Dinda ngerasa jenuh dhit..”
“It’s every girls dream to have someone like you, tapi..” dinda mengambil nafas panjang.
“…tapi lama-lama aku pikir, gimana kamu bisa ngebawa aku, sementara kamu selalu nurutin apa mau ku..”
“Kamu terlalu percaya sama aku..there’s no cha..”
“Just..stop,okay din..just stop.” gue potong kata-katanya.
“Udah kamu gak usah jelasin, aku udah tau kok apa yang kamu maksud”
“Aku ngerti, udah jelas semuanya..” dengan sangat terpaksa gue berusaha buat tegar.
“Terima kasih kamu udah mau jujur sama adhit.“
“Dhit….forgive me” air mata dinda gak bisa ditahan lagi menetes di pipinya.
“Ssst…udah gapapah, I understand, aku pulang yah, kamu jaga diri baik-baik..” senyum getir gue mengiringi kata-kata terakhir gue ke dia.

Tanpa melihat dan mencoba menghapus air matanya, gue langsung berbalik meninggalkan dia yang duduk sendiri, gak lama setelah itu gue berpapasan dengan cowo yang tadi pagi gue liat bareng dia di supermarket, gue gak mau menengok kebelakang, entah karena gue masih sayang sama dia dan gak tega ngeliat dia nangis, atau mungkin karena saking marahnya gue ke dia sehingga gak bisa lagi berbuat apa-apa. Dia mutusin gue karena dia ngerasa udah gak ada tantangannya lagi pacaran sama gue, karena gue terlalu baik.
Akhirnya hari yang tadinya gue pikir akan jadi hari terbaik buat kita berdua, jadi hari selesainya kisah cinta yang udah jalan selama dua tahun. Dan sejak itu gue gak mau ngasih hati gue ke orang lain, gue gak percaya apa namanya cinta, tapi bukan gue menutup diri untuk masalah satu ini, ooh noo !! I will have my revenge..






Read More......